[BELAJAR DARI KETELADANAN TGK.H.ISMAIL; ABU CHIK DI DAYAH BUSTANUL ULUM LANGSA]

Tgk.H.Ismail bin Ibrahim atau biasa disapa Abu Haji lahir pada masa penjajahan 20 april 1921 di Aceh Timur. Semasa kecil beliau berpendidikan Sekolah Rakyat (SR) di kampungnya Idi. Kab.Aceh Timur sembari menunut ilmu di Dayah (pesantren tradisional) yang ada saat itu. Menginjak masa remaja saat menjelang kemerdekaan RI ia dibawa oleh orang tuanya mengerjakan ibadah haji ke tanah suci dengan menumpang kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya.

Sesampai disana beliau melanjutkan pendidikan mengajinya  di Darul Ulum-Makkah, sebuah Madrasah yang di dirikan oleh ulama Nusantara bernama Sayyid Muhsin Al-Musawa Al-Falinbani yang dijuluki Bapak Pelopor Pendidikan Indonesia di Tanah Haram. Darul Ulum sendiri  termasuk gudangnya para alim, banyak santrinya berasal dari Asia Teggara, dan juga dunia Islam pada umumnya. Di antara santri-santrinya adalah Syaikh Muhammad Yassin al-Fadani (beliau temasuk juga salah satu pencetus ide berdirinya Darul Ulum sekaligus murid pertama) Yang dikenal dengan ‘Musnid ad-dunya’, Dr Abdul Wahab, Syekh Sulaiman Abu Nashr al-Din Bille, Syekh Abdul Hamid, Patani, dan lain-lain.

Sesampai di Mekkah inilah Abu Haji (setelah menunaikan ibadah haji) akhirnya menetap beberapa lama disana untuk menimba ilmu agama, sementara orang tua beliau kembali ke tanah air. Dan setelah beberapa lama menimba ilmu di Mekkah ini akhirnya beliau pulang kembali ke tanah air, sembari berumah tangga dengan Umi Hj.Asiah Adam  dan mengabdi di dayah yang ada di kampungnya. Selanjutnya beliau diangkat menjadi pegawai jawatan agama (sekarang KEMENAG). Beliau juga diminta tenaganya untuk membantu di pegadilan Agama sebagai penasehat dalam memutuskan perkara  di pengadilan Agama Aceh Timur.

Pada tahun 1961 beliau diminta menjadi pimpinan pondok Dayah Bustanul Ulum Langsa. Ketika itu pondok ini belum menggunakan sistem terpadu seperti sekarang, 20 tahun kemudian tepatnya 1981 dayah tersebut dipindahkan ke lokasi yang baru seluas 10 hektar lebih ditempat yang sekarang ini (jln.Medan-B.Aceh. Desa.Alue Pineung.Kec.Langsa Timur. Kota Langsa). Beliau tetap memimpin Dayah Bustanul Ulum hingga memasuki masa senjanya. Di usia lanjut ini beliau juga mendapat kepercayaan sebagai ketua MUI Aceh Timur sekaligus masih sebagai Abu Chik Di Dayah hingga wafatnya tahun 1996.

Bagi anak-anak dan zuriat, kepergian beliau sangat menyisakan duka. Abu Aji (sapaan akrab beliau) adalah sosok yang memiliki kasih sayang, penyabar, dan tidak pernah marah, banyak memberi nasehat dan sesekali suka berkelakar.

Karena ke’aliman dan ketawaduannya banyak orang mengunjungi kediaman beliau untuk bertanya masalah agama, meminta nasehat dalam berbagai masalah serta minta dido’akan untuk kesembuhan dari penyakit dan keperluan lainnya, banyak pula masyarakat yang bersedia meminum sisa minumnya hanya untuk mengharap berkah, hingga ada pula yang meimta air bekas cuci tangannya namun permintaan ini belum pernah di berikan.

Sejak wafatnya hingga kini Madrasah Ulumul Qur’an sangat-sangat kehilangan sosok kharismatik ini, seorang wara’, tawadhu’, zuhud, muru’ah, sabar, ikhlas, penuh penyayang, panutan santri dan juga masyarakat sekelilingnya 

Alfatihah untuk Abu Haji, Ummi Haji, dan seluruh Zuriatnya, semoga Allah mencurahkan rahmat bagi kita dengan berkat mereka.

[Sumber: data disertasi Dr.Syamsun Nahar]

image